Preggo Story #2: Is This the Time?

Selama masa kehamilan, alhamdulillah selalu dikasih nikmat sama Allah SWT. Paling yang gak enak cuma mual ingin muntah aja, muntah pun cuma keluar air, bukan berupa makanan. Setiap check ke dokter pun alhamdulillah, baik kondisi aku maupun kondisi bayi di dalam perut selalu baik dan sehat-sehat. Paling parah kondisi fisik yang keganggu adalah sakit kepala. Habis dikasih essential oil atau minum kopi, juga istirahat sebentar, hilang deh!

Selama hamil juga aku masih kerja kantoran. Masih kesana kemari. Kamar aku pun masih di lantai dua, and that was fine. Aku juga masih bisa makan ini dan itu tanpa worry, karena pantangan makanan pun engga banyak. Kalau masalah ngidam-ngidam, sesekali pernah ngerasain, “Makan ini kayaknya enak, ya…”. Tapi gak mesti dipenuhin saat itu juga 😂 pernah sih sekali, kepengen banget makan Soto Betawi Ayam, dengan request engga pakai bawang daun. Gak tahunya pas Mas Suami pulang, dia bawanya Soto Betawi Daging dan pakai bawang daun. Hancur lah hati rasanya 💔 sumpah rasanya marah ingin nangis, tapi kasihan juga sama Mas Suami mau mengusahakan beli lagi, padahal udah malam, dan ternyata udah pada tutup. Akhirnya malam itu gak mau makan sama sekali dan tidur dalam keadaan kesal 😅

Untuk masalah berat badan, aku happy karena for the first time in forever, aku naik berat badan, sampai 15 kilo! Temen-temen deketku tahu banget, aku tuh selalu pengen naik berat badan dari dulu, tapinya gak pernah berhasil sama sekali walaupun udah makan banyak. Tapi, naik berat badan sampai 15 kilo pun itu cuma perutnya doang yang gendut, semuanya masih sama aja kayak aku sebelum hamil.

Dari semua kenikmatan yang alhamdulillah aku rasain selama masa kehamilan sekitar 36 minggu, di minggu ke-37, sesuatu terjadi sama badan aku. Tiba-tiba pangkal selangkanganku nyeri, sampai susah bergerak, apalagi dipakai jalan. Waktu pertama ngerasain sakit itu, aku masih masuk kantor, cutiku dimulai dua hari setelahnya. Di kantor juga aku berusaha jalan dikit-dikit dan bilang ke atasan kalau aku mulai ngerasain sakit selangkangan. Atasanku bilang, mungkin udah dekat-dekat waktu lahiran. Jadi aku mulai mikir kalau hal itu wajar terjadi. Sampai besoknya, sakitnya itu mulai makin menjadi. Bangun dari tempat tidur pun rasanya susah banget. Sempat maksain mandi dan berniat ke kantor untuk hari terakhir kerja. Tapi langsung nyerah waktu mau pakai baju. Mas Suami pun sampai panik dan berinisiatif untuk kasih tahu orang-orang di rumah. Semua pun menyarankan untuk pergi ke IGD Kebidanan di RS Borromeus, RS tempat aku biasa kontrol. Suasana langsung chaos seketika, karena kita belum prepare apapun untuk dibawa ke RS. Setelah semua bantu untuk prepare ini itunya, berangkatlah aku, Mas Suami, Mama, dan Papa ke RS. Sebenernya dalam hati was-was juga, karena ngerasa kayak ini tuh bukan waktunya untuk lahiran. Masih 37 minggu, juga gak ada kontraksi sama sekali. Tapi di sisi lain ngerasa gak beres juga dengan kondisi kayak gini. Takut aja pokoknya. Tapi akhirnya mau gak mau dihadapi aja.

Turun mobil langsung minta kursi roda ke Pak Satpam di lobby, karena gak bisa jalan sama sekali. Sakit banget rasanya. Sampai di IGD Kebidanan, langsung ditanya-tanya kondisi, dan masuk ke ruangan untuk diobservasi. Bidan dan suster jaga di sana bilang kemungkinan ini tanda-tanda kelahiran, jadi aku harus dicek dalam untuk lihat apakah ada pembukaan dan juga di CTG untuk lihat kondisi detak jantung bayi dan kontraksi. All good. Cek dalam belum ada pembukaan, detak jantung bayi pun oke. Terus kenapa, nih?

Akhirnya diputuskan untuk cek urin dan cek-cek lainnya yang jujur aku sendiri lupa apaan saking udah gak bisa mikir karena fokus nahan sakit. Hari itu pun berakhir dengan One Day Care, alias aku harus nginep di IGD semalam. Hasil observasinya, ternyata ada infeksi di saluran kemih. Ditambah posisi bayiku di dalam udah semakin turun, juga akibat kecapean karena banyak beraktivitas sebelumnya. Setelah konsultasi sama dokter kandunganku, aku pun pulang ke rumah dibekali beberapa obat dan antibiotik. Perkiraanku kalau ini bukan waktunya untuk lahiran pun terbukti. Aku sedikit lega karena hatiku memang belum siap aja kalau harus lahiran dalam keadaan sakit.

Sampai di rumah pun langsung fokus sama pemulihan. Aku bikin target dalam dua minggu ke depan harus benar-benar pulih, at least udah gak sakit lagi selangkangannya dan bisa gerak, bisa jalan lagi. Kenapa, karena aku sangat ingin lahiran secara normal. Jadi, selama dua minggu aku bener-bener kuat-kuatin diri, ngumpulin tenaga, ngumpulin keberanian, buat bisa bangkit lagi, buat bisa sembuh lagi seperti sedia kala. Apakah aku berhasil pada akhirnya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s