Healing Process

“Are you okay?”
Kira-kira itu pertanyaan yang sering banget aku dapet dari temen-temen deketku selama hampir dua bulan ini. Sebenernya gampang buat jawab pertanyaan di atas itu dengan jawaban, “I’m okay…” aja kalau aku emang bener-bener ngerasa baik-baik aja. But the truth is I am not.

Butuh waktu dan energi yang banyak untuk aku sendiri buat jelasin ke mereka apa yang sebenernya aku rasain dan jujur, aku merasa gak nyaman dengan hal itu. So I kept it by myself. Aku takut apa yang bakalan aku ceritain sama mereka itu bakalan bikin mereka terasa terganggu karena pasti I will cry a lot. Belum lagi, mungkin beberapa dari mereka bakal merasa marah ataupun kesal dengan cerita aku ini dan juga, apa yang aku bakal ceritain ini bakalan butuh waktu yang lumayan panjang, karena aku gak bisa jelasin semuanya secara singkat. But then again I remember, ini semua mereka lakuin karena mereka care sama aku. Mereka peka sama keadaan aku yang tidak baik-baik saja ini. Mereka mau meluangkan waktunya buat sekedar bertanya tentang keadaan aku. Thank God, they never leave. So, I started to tell them the stories, even it’s too hurt.
After I told them the whole story, yang jelas semuanya bikin aku ngerasa lega banget. Kayak semua beban yang numpuk itu berkurang sedikit demi sedikit. Respon yang keluar dari mereka pun macem-macem, lho. Ada yang marah, kesal, bijak, islamik, datar, tapi semuanya bikin aku bersyukur, thank God I have them. Mereka semua rata-rata kasih pesan yang sama, such as: ikhlas, pasrah, sabar, better days are coming, dll. Dan satu pesan yang paling aku inget sampai dengan hari ini adalah, “Jangan tinggalkan shalat dan berdoa yang terbaik sama Allah SWT.” Mungkin ini semacam teguran buat aku pribadi yang terkadang masih bolong-bolong shalatnya, yang masih senang-senang dengan apa yang aku dapet tapi suka lupa bersyukur, dan terlalu larut dalam kesedihan sampai-sampai aku lupa kalau aku selalu punya Allah. Di saat itu pula I promised to change myself…

b06e0b1108d6fb4928ca3bfd36849bb9

source: Pinterest

It’s amazing how dua heals everything. Setelah aku shalat, berdzikir, bershalawat, mengaji, dan aku berdo’a sama Allah dengan sungguh-sungguh sampai banjir air mata, semua beban yang aku rasain itu kayak hilang semuanya. Aku ngerasa tenang banget. Asli, aku kayak bener-bener ngerasa damai. Rasa sedih yang aku rasain sedikit demi sedikit mulai berkurang. Setidaknya, aku udah gak se-desperate itu lagi. Walaupun jujur, aku masih suka kepikiran hal itu dan bikin aku sedih, but I didn’t show it. I’d rather looked happy than sad. Apa yang bisa aku lakuin sekarang adalah terus berdo’a sama Allah, karena itu yang bisa bikin aku tenang. Aku ulang do’a yang sama setiap harinya, dengan harapan Allah bisa mengabulkannya. Aamiin.

tumblr_nd8djzLl7B1qg3f0mo1_1280

Aamiin. Source: tumblr

Ada rumus:
Jarak = Kecepatan x Waktu
S = V.t

Jika mengulang doa-doa diibaratkan seperti mengayuh sepeda, maka bagaimana kita akhirnya sampai ke arah yang kita tuju (jarak) bergantung pada seberapa sering kita mengulang doa tersebut (kecepatan) dikalikan seberapa lama waktu kita memohon kepada pencipta agar segera sampai ke tujuan (waktu).

Akhir-akhir ini, saya baru tersadar mengapa ada banyak harapan saya yang lamaaa sekali baru terkabul. Permasalahan terbesarnya, saya tidak rutin mengulang doa-doa saya. Ditambah lagi, waktu untuk berdoa terkadang terburu-buru, sibuk lebih tepatnya merasa sibuk. Kapan saya bisa sampai ke tujuan jika:
1. Jarang mengayuh sepeda (baca: rutin mengulang doa)
2. Waktu untuk bersepeda hanya sebentar padahal ini bisa mempercepat sampai ke tujuan (baca: saat menghadap ke Allah untuk berdoa tidak lama).

Jadi sekarang saya akan coba untuk duduk atau sujud lebih lama dan terus mengulang doa-doa saya. Semoga semua doa akan segera tersampaikan. Aamiin.
(source: http://mefanny.tumblr.com/post/99643711467/92days-ada-rumus-jarak-kecepatan-x-waktu-s)

So yeah, it’s my healing process. I don’t know how long it’s gonna be, sebentar atau lama. Tapi, aku coba untuk nikmatin aja masa-masa ini. Gak kerasa, it’s been (almost) a month, and see? I survived it.

Advertisements

6 thoughts on “Healing Process

  1. fandy says:

    Tetep semangat kak, jangan lupa berdoa dan berusaha.

    Seperti kata kutipan “There is a will, there is a way”. – Lembar Buku jaman SD merk Sinar Dunia

  2. Firdaus says:

    Setujuh! Cara penyembuhan paling efektif mah ya shalat, doa. Rasanya masalah ikut mencair kayak air yang keluar dari mata. *hasek Hati juga enteng, tenang, adem, damai. Yah begitulah… Semoga selalu istikomah aja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s