“Selamat Tidur Guys”

First of all I would like to say that today I feel so glad to have such crazy friends who always made my day like you all. So, guys, if you’re reading this, this is for you!


img_3322

Selamat Tidur Guys is just a name of a LINE Group. It started when we were on a LINE Conference and we used that – selamat tidur guys – term in the end of our conversation, kayak semacam goodnight greeting gitu, kalau masing-masing dari kita mau pada tidur dan gak ngobrol lagi. One day we decided to make a group instead of just a conference, dan jadilah group ini dinamakan Selamat Tidur Guys. Se-absurd itu ya namain LINE Group hahaha

img_2710

Malda – Beben – Fasya – me – Peje – Aip

Isi dari group ini adalah segelintir manusia-manusia absurd (aku yang paling normal) dan menyebalkan, tapi juga menyenangkan. Mereka adalah Fasya, Irvan, Arief, Malda, dan Trias. Oh ya, kita juga punya panggilan masing-masing. Aku dipanggil Dizza atau Ijah, Fasya dipanggil Caca, Irvan dipanggil Beben, Arief dipanggil Aip, dan Trias dipanggil Peje. Cuma Malda aja yang dipanggilnya Malda, sama kayak nama aslinya. Awal perkenalan kita berenam juga bisa dibilang cukup absurd. Back to 2012, Fasya introduced me to Beben, dan Beben itu mantan pacarnya temenku dan Fasya (I guess we don’t need to mention her actual name here, LOL). Long story short, kita bertiga jadi sering main bareng, sampai akhirnya Beben jadi ngenalin kita ke temennya, Malda dan Peje. Sempet beberapa kali ketemu dan main, terus udah aja akhirnya menghilang. Sampai akhirnya di tahun ini, kita ketemu dan main bareng lagi. Di tahun ini juga Beben ngenalin ke satu orang temennya lagi, Aip, yang ternyata adalah mantan pacarnya temen SMP-ku.

Even we’re very different, but we can talk about anything and everything. Dari mulai yang penting sampai yang gak penting sekalipun. Setiap hari, from dusk till dawn, group ini selalu rame. Kalau gak rame dalam satu hari aja, kayaknya berasa kehilangan. Berasa kangen sama kampret-kampret itu. Sampe kadang marah-marahin aja di group “INI PADA KEMANA SIH?” saking sepinya group. Aneh aja gitu rasanya gak ada chat dari mereka. Padahal setiap harinya emang pada punya kesibukkan masing-masing, entah itu kerja ataupun kuliah. Kalau ketemu pun, gak pernah gak ketawa sama mereka. Selalu aja ada hal yang bisa dibikin fun. They’re actually my laughter machines.

I never thought that this friendship turned into something fun eventho we insulted each other. But deep down inside we knew, we care and love each other. Ngaku aja lah! Sebel-sebel juga kalian nyaah kan? Hahahaha. I thank God for sent me such crazy friends like you. I really hope that this friendship would last forever, no matter what will happen to us in the future. I love y’all guys! ❤

Advertisements

Wedding Story #1 – The Prologue

untitled

Half of my friends are getting married or even having children and I was like “Wtf am I doing with my life?”. After my most dramatic break up scene, I feel like I’m tired of having a relationship with some new random guys. I hate a basa-basi during the PDKT life. Males kenalan haha hihi gak penting sama orang baru, bawaannya males aja. Males juga capek-capek jalan sama orang lama-lama bertahun-tahun, ujung-ujungnya malah ditinggalin. What a waste! Boro-boro kepikiran bakalan ada yang nikahin dalam waktu dekat deh, yang ada cuma kepikiran mau benerin dulu diri sendiri supaya nanti bisa dapet jodoh yang baik di kemudian hari.

Lagi-lagi, manusia cuma bisa berencana, and Allah’s hands worked on it. Allah sent a guy and I have no idea who is he before. Poof! Tiba-tiba unplanned aja kenalan sama orang, di social media bernama Instagram, jaman gini. Anehnya lagi setelah ngobrol ngalor ngidul ngerasa kok bisa ya nyambung begini. Fyi, this random guy ternyata salah satu temen Kakak dan perkenalan kita pun bukan karena Kakak sok-sok ngenalin, ini pure asli karena he found my username on Kakak’s Instagram Story terus follow dan ngajak kenalan. Tapiiiiiii, back to 2014, dia pernah follow aku pun, tapi aku gak followed him back simply karena aku gak tahu itu siapa hahaha and fortunately di tahun ini dia follow, aku langsung follow back. Gak cuma itu aja, there’s too much unique things that we found after we talked much about our life. Ternyata jauh sebelum ini, kita pernah ada di acara musik yang sama; Bazaar SMAN 2 Bandung tahun 2008 or 2009 I don’t exactly remember, Sunday Afternoon-nya Mocca tahun 2011, sama Konser Diorama-nya TULUS tahun 2013. Kita juga pernah ada di acara Trademark Market 2014 selama 4 hari dan booth kita bersebelahan tapi ya kita gak kenal satu sama lain. Coincidence? I don’t think so. Terakhir dia bilang kalau dia pernah lihat aku dan keluargaku di depan Top Shop, Paris Van Java di tahun 2016 kemarin. Mungkin juga kita pernah papasan di mana, atau makan di tempat yang sama, atau kemungkinan-kemungkinan lainnya yang kita sama sekali gak tahu, yang jelas, di tahun ini akhirnya kita dikasih kesempatan to know each other. Se-unik itu ya tangan Tuhan bekerja! I’m amazed.

Talking about our relationship, gak butuh waktu terlalu lama dan bertele-tele untuk kita sadar kalau we have the same goals. Kita berkomitmen dan kita menuju satu tujuan yang sama yaitu pernikahan. Yes, he’s the only guy who bravely asked me to be his life partner instead of asked me to be his girlfriend. Dan dengan sebuah keajaiban, I definitely said yes to him easily. Kok bisa sih, segampang itu? It’s simply because when I looked at him I know that he’s the one.

No Surprises

No, no. If you think that I’m gonna explain or talk about that Radiohead’s song, no I’m not. Well, here’s the actual fact. I think I have no idea how to make some surprises nowadays. It’s like, hey, if you want to give something to someone just simply give it. No basa-basi needed. Padahal dari dulu aku termasuk orang yang well-prepared banget kalau urusan surprise-surprise-an. Gak tahu sekarang skill ngasih surprise-nya udah gak ada banget, udah gak bisa se-kreatif dulu lagi. Oh tidak, mungkin ini efek penuaan. Hahaha NOOOO!

Tapi ya namanya juga cewek ya, pengen gitu setidaknya ngasih surprise kecil buat partnernya. Kayak ngirim lunch secara tiba-tiba ke kantor, atau misalnya ngebeliin apa gitu. But it didn’t work well on me. I ended up telling him that I want to send or give him something. Contohnya, back to my pengangguran days few months ago; di rumah lagi masak, terus kepikiran pengen banget ngasih lunch box sama Mas-nya. Instead of send it anyway as a surprise, aku malah bilang sama Mas-nya, “Mas, jangan makan siang dulu ya. Aku mau ngirimin sesuatu nih. Anggap aja kamu gak tahu apa-apa ya, jadi kamu kaget dikirim lunch.” Itu berlaku gak sekali apa dua kali aja, setiap mau kirim lunch pasti kasih info begitu dulu. Then I feel stupid 😀 tapi seneng juga soalnya he appreciated it ❤

Gara-gara hal itu, aku jadi expect nothing juga sih sama Mas-nya. Kayak misalnya expect tiba-tiba dikirimin atau dikasih ini itu, it’s not on my list anymore. Tapi Mas-nya pernah sih sesekali surprise-in, dengan tetiba ada di ruangan TV gak ketahuan masuknya pas aku seharian belum mandi, alhasil aku langsung teriak “NGAPAIN KESINI GAK BILANG-BILANG AKU BELUM MANDIII!!” lanjut kabur buat mandi atau tetiba nongol waktu aku bilang aku di rumah lagi sakit. That’s kinda sweet.

Sekalinya berencana buat bikin surprise adalah waktu Mas-nya lagi kepengen beli sepatu A. Udah niat banget tuh prepare dari semalem sebelumnya, buat beli sepatu itu minta ditemenin Fasya. Fasya udah oke mau nemenin, eh few hours later Mas-nya ngirim foto sepatu yang dia pengen dan dia baru aja beli hari itu. I was like aaaarrrggghh padahal baru besok mau beli, mau kasih buat Mas-nya tapi malah gagal </3 habis itu malah ngomel ke Mas-nya bilang kenapa sih beli duluan padahal baru mau dibeliin dan Mas-nya malah minta maaf. Ya begitulah, gak bakat bikin surprise kan anaknya :’)

IMG_2352

Satu lagi, baru aja kejadian. Jadi ceritanya gegara gagal ngasih sepatu A, aku berencana ngasih sepatu B aja ke Mas-nya. Udah deh tuh pesen si sepatunya kebetulan keponakanku jual juga. Tapi ternyata barangnya ini belum ready, jadi harus nunggu sekitar satu minggu. Setelah seminggu, aku tanya keponakanku tentang ketersediaan sepatu ini, ternyata masih kosong, dan ada dengan warna lain. Terus karena aku gak tahu juga Mas-nya mau yang warna apa, dengan bodohnya nanya lah, mending warna ini apa ini ya? Dan Mas-nya bilang, “Sepatu buat siapa? Kok aku jadi kepengen juga ya…” aku bohong, bilangnya buat aku. Terus aku tanya lagi bagusan warna apa, Mas-nya minta dikirimin foto-fotonya terus dia pilih warna dan malah bilang kalau dia mau beli juga. In the end, I told him that tbh I’ll buy one for him, tapi ya gimana gak bisa ngasih surprise malah nanya-nanya sama Mas-nya hahaha maafkan aku Mas 😀 tapi Alhamdulillah, Mas-nya seneng dikasih sepatu B walau gak surprise karena udah tau duluan mau dibeliin :p

So that’s all for today’s post. Ini post macam apa ya, semacam tidak berfaedah tapi gak apa-apa lah yaa, hitung-hitung ngisi blog lagi setelah dua bulan ditinggalin 😀 Kalau kalian gimana? Ada cerita tentang surprise-surprisean juga gak?

Eid Al-Fitr 1438 H

Taqabalallahu minna wa minkum shiyamana wa shiyamakum. Eid Al-Fitr mubarak from me to my fellow blog friends! Mohon maaf lahir dan batin ya manteman semuanya. Maaf-maaf nih kalau misalnya selama terjun di dunia per-blog-an ini masih kurang konsisten dan sebagainya 😀 Okey, ini apa-apaan ya baru muncul lagi setelah 3 bulan, muncul-muncul mau bahas moment Lebaran, yang udah lewat seminggu juga hahaha gak apa-apa lah ya. Jadi begini cerita Lebaran tahun ini…


Day #1
Seperti biasa, di hari pertama selepas shalat Eid, salim sungkem sama Mama Papa juga Kakak, salam-salaman sama tetangga, lanjut makan makanan khas Lebaran dan juga kue buatan sendiri. (Yes, my Mama decided to let me make all Lebaran cookies and dishes and I was so happy!). Habis itu mudik singkat ke Ciwidey ke rumah Nenek. Di hari pertama Lebaran ini, tema outfit kita sekeluarga abu dan navy. Setiap tahun menjelang Lebaran, kita sekeluarga suka kompak beli baju yang model atau warnanya sama, supaya lucu aja kalau kompakan. Sayangnya, kita berempat engga sempat foto barengan, cuma sempat bikin boomerang aja dan unfortunately, aku gak bisa masukkin boomerang-nya kesini, katanya format videonya beda, and I’m too lazy to convert it to the compatible mode hahaha sorry :p

Day #2
Nah, untuk Lebaran hari kedua tahun ini ada yang beda. Biasanya kita sekeluarga mudik ke Jakarta buat kumpul bareng sama keluarganya Papa, tapi tahun ini engga. Tapi, yang lebih bikin beda lagi adalah, di hari ini, aku akan bertandang ke rumah Ibu, Bapak, dan keluarga besarnya Mas Gagi. W-O-W. Ini first time. Deg-degan sih gak usah ditanya lagi. Tapi alhamdulillah, hari yang menegangkan ini berhasil dilewati dengan amat sangat baik, I’m fully accepted, and I’m beyond happy ❤

Day #3
Hari ini juga ada acara yang beda lagi. Tahun ini, keluarga besar Nenekku ngadain acara Halal Bihalal di rumah Nenek di Ciwidey, jadi kita semua mudik singkat lagi kesana. Kali ini, Mas Gagi ikutan mudik. Kali ini, giliran Mas Gagi yang ngabisin moment Lebaran bareng keluarga besarku, keluarga besar dari pihak Mama (sebelumnya baru ikut ke acara keluarga besar Papa aja). Keluarga yang dateng super banyak, sampai beberapa di antaranya aku gak ngenalin. Ini acara Halal Bihalal kayak acara nikahan siapa gitu, rame bener 😀

 

IMG_2699c

The Natawijayas

IMG_2702c

The Natawijayas

IMG_2707c

The Natawijayas

Day #4
Hari Lebaran keempat ini, aku balik lagi ke Ciwidey dalam rangka nganterin ponakanku dari Jakarta buat silaturahmi ke rumah Nenek. Hari ini perjalanan ke Ciwidey lama banget gara-gara macet. Kita di Ciwidey pun engga lama, soalnya sore ini aku, Mama, dan Papa harus mudik ke Jakarta. Super mendadak. Papa pengen Mas Gagi ikut, tapi sayangnya Mas Gagi udah keburu ada rencana lain. Kakak gak ikut pun, soalnya sama-sama punya janji. Akhirnya kita ke Jakarta bertiga, berempat sih, disetirin supir, soalnya besok harinya Papa mesti ke Bandara Halim, terbang ke Papua untuk kerja lagi jadi mesti ada yang setirin mobil balik ke Bandung. Fyi guys, waktu kita ke Jakarta, pas banget awal-awal arus balik, jadi lah kita terjebak macet. Berangkat dari Bandung jam 5 sore, sampai ke Jakarta jam 10 malem. Gils.

Day #5
Hari ini, keluarga Papa kumpul lagi. Kita semua berencana buat nyekar ke makam Nenek di TPU Tanah Kusir. Kebetulan makam Nenek baru aja selesai diperbaiki sesuai dengan peraturan pemerintah. Setelah itu, kita semua berencana makan besar di Rumah Makan Pagi Sore yang katanya wajib banget dicoba, tapi sayang banget RM Pagi Sore belum buka 😀 tapi gak apa-apa, masih ada Rumah Makan Padang lainnya yang gak kalah enaknya. Udah kenyang, kita balik lagi untuk kumpul di rumah Om di daerah Barito, dan mutusin buat berkunjung ke rumah saudara yang lain di daerah Duren Sawit. Terakhir, kita ke Bandara Halim Perdanakusuma untuk nganterin Papa karena Papa harus flight ke Papua malam ini. Goodbye Daddy, see you soon!

IMG_1405

The Soehardjas

IMG_1403

Makan besaaaar!

IMG_1404

Bye, Daddy!

Hari kelima Lebaran ini ditutup dengan perjalanan pulang ke Bandung yang alhamdulillah super lancar, cuma dua jam perjalanan aja. Sampai rumah pun langsung dipakai istirahat soalnya berasa kurang banget tidur dari semenjak hari pertama sampai hari kelima Lebaran.

Highlights dari Lebaran tahun ini:
Alhamdulillah masih bisa ngerasain Lebaran full sama Mama, Papa, dan Kakak di tahun ini, karena Papa kebetulan pulang ke Bandung sebelum Lebaran dan gak Lebaran di Papua. Alhamdulillah juga tahun ini bisa ngerasain Lebaran sama Mas Gagi, Ibu, Bapak, Rafi, dan keluarga besar Ibu, bersyukur juga karena aku diterima baik di keluarga Mas Gagi, senang sekali 🙂 Lebaran tahun ini gak ditanya “mana calonnya?” lagi, tapi juga diserbu dengan pertanyaan “kapan nikah?” yang dijawab dengan senyuman dan jawaban “in shaa Allah, kalau gak hari Sabtu, hari Minggu” hahaha. Alhamdulillah juga masih bisa ngerasain Lebaran bareng keluarga dari Papa dan dari Mama. Pokoknya Lebaran tahun ini, alhamdulillah banyak dikasih senangnya, semoga masih bisa ngerasain lagi di tahun-tahun berikutnya. Aamiin.

Kalau kalian, gimana nih Lebarannya? Semoga kalian semua pun senang-senang selalu yaaa! Sekali lagi, mohon maaf lahir dan batin 🙂

 

Sate Taichan

Yay! It’s definitely my very first post of #cookingwithArdizza category. Now I’m gonna share my cooking experience on how to make Sate Taichan, since it’s being a hype nowadays. Tbh, I haven’t tasted it yet, aku selalu penasaran gimana rasanya Sate Taichan yang katanya gurih dan pedas itu. It’s like my things banget, soalnya aku suka sekali makan makanan yang gurih dan pedas. Karena aku belum sempat aja buat mampir di tempat Sate Taichan, so I decided to make it instead of buy it hahaha. Lebih enakkan bikin sendiri bisa koreksi rasa kalau-kalau ada yang kurang, dari pada aku harus jauh-jauh pergi ke tempatnya :p

First thing first, ini resep super ngaco yang aku buat. Aku nekat aja beli ini itu bermodalkan “kayaknya pakai ini deh” tanpa lihat resep di mana pun. Aku cuma pernah tanya sama temenku yang pernah makan Taichan and she said, “rasanya gurih sama seger gitu, dari lemon atau jeruk nipis.” So yeah, I called it with “my very own Sate Taichan” karena, ini resep semau aku 😀

Processed with VSCO with g3 preset

What you will need:

for Sate itself:
– 1 kilogram ayam (or simply use chicken fillet to make it easier)
– 2 lemons
– 1 Royco Ayam
– sejumput garam
– tusuk sate

for the sauce:
– 3 cabai merah
– 10 cabai rawit merah (tergantung selera)
– 6 siung bawang putih
– 4 siung bawang merah
– 1 buah tomat
– 1 gelas air mineral
– 3 sendok teh garam
– 2 sendok teh gula
– merica atau lada putih secukupnya
– 1 Royco Ayam

additional ingredient:
– 1 sendok makan roombutter (or margarine)

How to make it:

  1. Pisahkan daging dan kulit ayam dari tulang, potong dadu.
  2. Lumuri potongan daging dan kulit ayam dengan perasan lemon, sejumput garam, dan Royco Ayam.
  3. Tusuk potongan daging dan kulit ayam.
  4. Siapkan pan untuk memanggang, lumuri dengan roombutter agar pan tidak lengket. (You can use margarine too, I used roombutter because it smells good and it makes the chicken tasted better).
  5. Panggang ayam sampai matang berwarna kecoklatan. (you can simply fry it untuk lebih cepat, karena memanggang cukup makan waktu banyak).
  6. Untuk sauce, tumbuk cabai merah, cabai rawit, bawang putih, bawang merah, dan tomat, jangan terlalu halus. (Kalau mau cepat sih, bisa diblender aja. Tapi ditumbuk sendiri rasanya lebih ada effort-nya dan lebih seru :D).
  7. Panaskan wajan, beri sedikit roombutter, tumis bumbu sampai matang.
  8. Tambahkan air mineral, aduk-aduk.
  9. Tambahkan garam, merica, gula, dan Royco Ayam. Koreksi rasa.
  10. Tuangkan sauce ke atas ayam.
Processed with VSCO with g3 preset

THIS IS IT!

Gimana, gimana? It’s easy, right? You just need 10 step to make it! 😀 Oh ya, fyi, 1 kilogram ayam ini bisa jadi sekitar 36-an tusuk Sate Taichan, loh! Kalau dimakan sendiri sih bakalan kekenyangan, untungnya waktu itu emang bikin dalam rangka masakkin Mas-nya yang datang ke rumah di malam Minggu, jadi gak dimakan sendirian banget. Kalau menurut Mas-nya sih, katanya rasa Sate Taichan buatanku ini, “enak, tapi kurang banyak!” dan katanya lagi “ini Sate Taichan apa Panadol Cold Flu, sih? Menyebabkan kantuk…” padahal emang dia aja kekenyangan makan banyak hahaha 😀

So, that’s all for today #cookingwithArdizza. I hope you guys enjoy reading it, walaupun bahasanya campur-campur antara Indonesia and English, hope you don’t mind! Selamat mencoba resep Sate Taichan ngaco punyaku di rumah, kalau ternyata udah dicoba dan tidak sesuai dengan lidah kalian, atau ada bahan yang seharusnya dipakai tapi aku gak pakai, don’t hesitate to tell me, yaa. Happy cooking y’all! ❤

#cookingwithArdizza

Inspired by one of my blog friends, Ata, who loves to cook and share her recipes on her own blog, and also by many Instagram friends who love to share their recipes too, I finally had a chance to make one new category for this site, called  #cookingwithArdizza. Kyaaa! Kyaaaaaa!

I’m getting excited yet nervous at the same time, because cooking is one of my passion but I never shared my experiences on it to many people before. I ended up share only some pictures of it on Instagram Stories or/and Snapchat account and didn’t share its recipes. On this new category, I want to share my cooking experiences, not only the pictures but also with my own recipes to my fellow blog reader. So, see you on my first #cookingwithArdizza post and I hope you guys like it! ❤


P.S: I might use two languages; English and Indonesia, just in case I can’t explain it with English in a proper way (’cause I know my English isn’t good enough). Hope you don’t mind.

One Fine Day

One of my best friend, Irvi Rahmaniahmoved in to West Kalimantan after her marriage. It’s sad to know that now she’s thousand miles away from me but in the other side, I’m so happy for her. She finally found her true love and they lived happily together. I once met her and her husband after their marriage on May 2016 and I haven’t met her yet up until 2017. Then finally, she told me that she’ll be back to Bandung for about a week and she asked me to meet her. Yaaaayyy!!

Thursday // March 23, 2017.
We planned to meet at one of the coziest coffee shop at Dago street, Bandung, named 372 KopiIrvi also invited Fasya and Anggiet too, but sadly, Anggiet had another plan. But on the same day we planned to meet, Fasya also had a plan to meet with one of her blog friends, named Ata from Palembang, South Sumatera. I made friend with Ata too since we followed each other’s blog few weeks ago. So, the four of us finally met and we talked much about anything. It was fuuuun!

3721

Fasya – Ata – me – Irvi

 

3722

candid shot by Fasya

After we finished our coffee, our fun conversation, and after took so many good pictures, we moved to another place; Daily Dimsum at Jalan Ambon, Bandung. Fasya and me went there by her motorcycle while Irvi and Ata went there by GO-CAR. Fyi, Irvi told us that there’s no Dimsum seller in West Kalimantan so that she was so happy and wanted to taste Dimsum so bad here in Bandung.

IMG_9795

Oh, God, what should I called this with? Heaven on earth?

You guys have to try this. The taste is good and the price is quite cheap. Oh, and the chili oil makes it any better. I promise you won’t regret it! Damn, I think I’m starving now.

Day turned to night. Our day was full of joy and laughter and our tummy was full of good food. Time for us to said goodbye. No, no, it wasn’t a goodbye, it was just see you later because I hope to see them again later, in time. Thank you Irvi for coming; I hope you always have such a good life with your husband, thank you Ata for coming; it was good to know you in a person, and thank you Fasya for your time, always. LOVE ❤